Skill Apa Yang Kamu Kuasai Selama Pandemi?

Musim pandemi adalah waktu kita untuk memutar otak bagaimana kita tetap berpenghasilan tanpa keluar rumah, selain menaati anjuran pemerintah untuk dirumah saja kita harus tetap kreatif tidak hanya berpangku tangan menanti bantuan pemerintah. Jadilah orang yang aktif mencari, mengejar, membuat kesempatan bukan menunggu kesempatan. Pertanyaannya sekarang apa skill yang sudah kamu kuasai setelah kurang lebih 2 bulan ini hanya berdiam diri dirumah? Sedih banget ketika oe ditanya seperti itu, rasanya seperti ingin menjawab tapi tidak bisa karena memang tidak ada skill tambahan yang saya pelajari selama ini saat karantina. Padahal banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan selama dirumah saja seperti mencoba skill editing video, edit foto untuk feed instagram, atau yang jualan bisa mulai belajar menggunakan media sosial atau marketplace untuk memasarkan produk-produknya. "Tapi kan saya gaptek mas" HEY!!!!!!!!! percaya saya tidak ada yang tidak bisa dipelajari di dunia ini semua it...

Nikah Aja Dulu Nanti Ada Aja Kok Rejekinya


Kata-kata yang mengintimidasi dan sekaligus menjadi momok bagi orang yang lahir di tahun 1990-1997 dimana mereka berada dimasa penuh tekanan dari orang-orang sekitar yang sangat kepo akan kehidupan seseorang, yup angkatan ini baru berada dipilihan sulit yakni harus memilih antara mengembangkan karir atau menikah dan memulai kehidupan berkeluarga, memang sih setelah menikah bukan berarti sudah tidak bisa mengembangkan karir, banyak juga yang karirnya melejit setelah menikah bahkan orang tua dulu sampai punya stereotip "banyak anak banyak rejeki" dan itu tidak bisa kita anggap salah walau kita tahu biaya persalinan yang semakin mahal, popok bayi yang tiap hari minta ganti dan lain sebagainya. Hal ini yang membuat anak milenial semakin takut untuk menikah dan memilih untuk melebarkan sayap karirnya untuk kehidupan yang lebih baik.

Pemikiran kaum milenial ini juga tidak bisa kita salahkan begitu saja karena zaman telah berubah, berbagai pemikiran juga mulai muncul seperti menikah di umur tua tidak masalah yang penting secara finansial kuat terlebih dahulu, karena tidak sedikit sebuan keluarga hancur karena faktor ekonomi. Selain bidang ekonomi yang perlu diperhatikan sebelum memilih untuk menikah adalah faktor emosi yang matang, kesetabilan emosi sangat mempengaruhi suasana kekeluargaan seperti saat menghadapi permasalahan jangan sampai muncul kata-kata sumpah serapah apalagi muncul kata-kata talak karena ikatan pernikahan terlalu sakral untuk dibuat main-main maka faktor emosi ini harus sudah matang sebelum melakukan pernikahan

Oleh karena itu oe berpikir janganlah memaksa seseorang untuk menikah, walaupun terkesan dibawa bercanda, kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan yang dirasakan oleh mereka apalagi dengan menggunakan unsur agama seperti "apasih yang kamu takutkan? Segeralah menikah tuhan udah jamin kok rejeki kamu" helllllloooooowww bagi orang yang berkata seperti ini pengen oe bilang didepan mukanya "hei.... tuhan tidak akan ngasih rejeki cuma-cuma enak sekali kalau menikah bisa meningkatkan rejeki seseorang dengan instan, kalau seperti itu beruntung sekali bagi orang yang memiliki istri lebih dari satu dan sangat tidak beruntung sekali bagi yang sampai usia sekarang orang yang belum menemukan tambatan hatinya rejekinya enggak meningkat-meningkat."
tuhan juga gamau ngasih rejeki pada orang yang malas-malasan yang gak pernah kerja karena nasib seselrang tidak akan berubah kalau tidak adanya tindakan perubahan dari orang tersebut. Jadi? Menikahlah sesuai keinginanamu, menikahlah dengan seseorang yang kamu dambakan dari dulu menikahlah ketika semua kamu anggap siap dan ja gan menikah karena iming-iming omongan orang kalau menikah itu semuanya menyenangkan.

-bas24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penemuan Terbaik Abad Ini

Cinta Dengan Komposisinya